Waktunya Kumpulin Sampah

Kamis, 14 Maret 2013

BELAJAR DARI PEMULUNG SAMPAH

Pagi buta, ia sudah siap dengan keranjang besar di punggungnya, tongkat penjepit dan magnet bundar di ujungnya.

Ia datangi satu demi satu tong sampah di setiap rumah. Ia korek-korek, kadang ia mendapati botol plastik, kadang ia dapati kaleng bekas minuman bersoda, kadang ia dapati kardus dan Koran. Ia mulai memisahkan berdasarkan jenisnya.
Menjelang siang hari keranjang besar itu sudah penuh dengan sampah beraneka jenis. Ia datangi pengepul, ditukarnya sekeranjang sampah itu dengan beberapa lembar uang ribuan setelah sebelumnya ditimbang berdasarkan jenisnya. Pemulung memang mendapatkan uang tidak sebesar yang kita dapatkan, tapi ada pelajaran berharga yang dapat kita ambil.
Pelajaran apa yang bisa kita ambil?
Pertama, Bergegaslah dan jangan Malas!.
Kantuk adalah tanda kehidupan, tapi manakala kantuk itu menjadi alasan utama yang membuat kita berhenti beraktivitas wajib, maka itu adalah tanda "kematian". Kita harus mengalahkan kantuk dan kemalasan setiap hari. Bahkan Rasulullah mengajari kita untuk berlindung dari kelemahan dan kemalasan. Setiap hari pemulung harus berpacu dengan tukang sampah, ketika ia terlambat beberapa saat saja, ia akan kehilangan sampah yang seharusnya bisa pungut. Walau hanya dibalut dengan baju atau kaos lusuh plus celana seadanya, ia harus bergegas sembari bersusah payah membelalakkan kedua matanya untuk mengusir kantuk yang mendera. Ia akhirnya setiap hari berhasil mengalahkan kemalasan, sikap lemah dan berhasil menjemput rizkinya di balik tong-tong sampah. Bagaiman dengan kita?
Kedua, sambut pagi!.
Memulai aktifitas dari pagi hari. Rasulullah pernah besabda:
بورك أمتي في بكورهم, artinya: "Umat ku diberkahi pada pagi hari mereka". Seorang muslim setelah menjalankan shalat malam, dan kemudian istirahat sebentar lalu menjalankan shalat subuh di masjid, tibalah saatnya untuk mencari karunia Allah di muka bumi. Kita diwajibkan menyebar di segenap bumi untuk mencari maisyah, mencari sumber-sumber rezeki dari berbagai pintunya. Apapun profesi kita, apakah guru, pedagang, pebisnis, karyawan, pagi hari adalah waktu yang sangat baik  untuk memulai aktivitas. Pagi adalah  awal hari, saat fajar mulai menunjukkan kemerahannya, disusul mentari, kicauan burung dan kokokan ayam jantan. Udara pagi hari seberapapun kotornya nanti, adalah kondisi paling ideal untuk dihirup seluruh makhluq hidup termasuk kita. Saat itu pula badan kita telah kembali segar dan bergairah,  setelah beberapa jam kita terlelap dan kita biarkan sel-sel tubuh kita meregenerasi dirinya. Saat itulah kuncup-kuncup bunga kembali bermekaran, setelah semalaman ia menguncupkan dirinya. Saat itulah bayi-bayi membuka matanya, tersenyum menebarkan kebahagiaan bagi setiap orang yang menatapnya. Saat itulah Malaikat mendoakan keberkahan bagi orang-orang yang  membelanjakan hartanya di jalan Allah. Itulah pagi hari. Maka sebaik-baik aktivitas yang baik idealnya kita mulai saat pagi.
Ketiga, bawalah bekal walau itu berat!.
Lihatlah pemulung, keranjangnya melebihi besar tubuhnya, dipikul di punggungnya, iapun membawa tongkat untuk memudahkan memungut sampah. Ia paham benar apa yang akan ia lakukan dengan bekalnya. Keranjangnya sebanding dengan uang yang ia harapkan setelah ia menjual sampah hasil pencariannya. Bahwa kita dengan berbagai profesi kita, membutuhkan bekal untuk mencapai impian dan hasil yang kita harapkan. Semakin kita siap dan sungguh-sungguh mempersiapkannya semakin siap kita menjemput impian dan sukses yang kita harapkan itu. Kadang bekal itu sangat berat, dan itulah mungkin resiko yang harus kita pikul agar hasil yang kita capai maksimal. Dan sebaik-baik bekal sesungguhnya adalah taqwa, apapun impian yang ingin anda capai. Karena taqwa dijadikan Allah sebagai wasilah agar kita ditolong, agar kita memperoleh jalan keluar dari setiap keruwetan yang kita hadapi, agar kita dimudahkan dan agar kita memperoleh rezeki dari pintu yang tidak kita sangka-sangka.
Keempat, kumpulkan sedikit demi sedikit!.
Keranjang tukang sampai begitu besar, sementara sampah-sampah yang ia pungut mungkin hanya satu buah disetiap tong sampah, malah mungkin ia tidak dapatkan satupun darinya. Tapi ia tidak pernah berhenti dan bosan untuk menghentikan kerjanya, memunguti satu demi satu, mengumpulkan sampah-sampah hingga keranjangnya penuh. Anda, saya mungkin memiliki impian dan target pencapaian yang sangat besar. Seakan-akan target itu sulit bahkan mustahil kita penuhi. Tapi yakinlah bahwa jika sedikit demi sedikit kita kumpulkan kemampuan dan hasil-hasil kecil itu hingga akhirnya target kita terpenuhi. Lihatlah bukankah buku-buku ditulis selembar demi selembar. Lihatlah bukankah banjir itu berasal dari kumpulan dari setitik air hujan?
Kelima, klasifikasikan yang Anda temukan!.
Apapun yang kita miliki, kita dapatkan dan kita hasilkan cobalah untuk dikumpulkan sesuai dengan jenisnya. Itu akan memudahkan kita untuk memikirkannya dan managenya. Klasifikasi itu akan memberi kita nilai yang lebih daripada kita satukan. Bukankan ketika seorang pemulung menjual sampahnya berdasarkan jenisnya ia akan memperoleh uang lebih daripada ia memborongkannya?
Keenam, tukarlah apa yang telah anda hasilkan!.
Berapapun hasilnya yang telah kita peroleh, ia tidak akan bernilai apapun jika tidak Anda tukar dengan sesuatu yang anda inginkan. Bukankah Allah telah mewajibkan hambanya untuk beribadah kepadaNya, tapi Dia juga memberikan bagi hambanya surga dengan rahmatNya? Surga adalah nilai tukar yang akan kita dapatkan setelah kewajiban kita jalankan, walaupun ibadah itu sebenarnya sangat  tidak sebanding dengan nikmat yang Allah berikan kepada kita. Itulah pelajaran yang dapat kita ambil dari seorang pemulung. Wallahu a'lam.
Diposkan : Atep Supriatna

0 komentar:

Posting Komentar

komentar